Home / Islami / Isra Mi’raj Adalah: Pengertian, Sejarah, dan Hikmahnya

Isra Mi’raj Adalah: Pengertian, Sejarah, dan Hikmahnya

isra mi'raj

Isra Mi’raj Adalah: Pengertian, Sejarah, dan Hikmahnya

Isra Mi’raj adalah salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam yang berkaitan langsung dengan dasar ibadah umat Muslim, yaitu shalat lima waktu. Peristiwa ini tidak hanya memiliki dimensi sejarah, tetapi juga dimensi teologis dan spiritual yang kuat, karena menjadi momen turunnya perintah shalat secara langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.

Pengertian Isra Mi’raj

Secara etimologis, kata Isra berarti perjalanan malam hari, sedangkan Mi’raj berarti naik atau tangga menuju tempat yang lebih tinggi. Dalam istilah syariat Islam, Isra Mi’raj adalah peristiwa ketika Nabi Muhammad SAW diperjalankan oleh Allah SWT dalam satu malam dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina, kemudian dinaikkan ke langit hingga mencapai Sidratul Muntaha.

Peristiwa Isra disebutkan secara tegas dalam Al-Qur’an, yaitu pada Surah Al-Isra ayat 1:

 

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

 

Artinya:
Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
(Terjemahan Kementerian Agama RI)

Ayat ini menjadi dasar utama keimanan umat Islam terhadap peristiwa Isra Mi’raj.

Sejarah Terjadinya Isra Mi’raj

Para ulama sepakat bahwa Isra Mi’raj terjadi pada periode akhir kenabian di Mekkah, sebelum hijrah ke Madinah. Peristiwa ini terjadi setelah Nabi Muhammad SAW mengalami masa yang sangat berat, yang dikenal sebagai ‘Amul Huzn atau Tahun Kesedihan, ditandai dengan wafatnya Khadijah binti Khuwailid dan Abu Thalib.

Perjalanan Isra: Mekkah ke Masjidil Aqsa

Dalam fase Isra, Nabi Muhammad SAW diperjalankan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa dengan kendaraan bernama Buraq, ditemani oleh Malaikat Jibril. Di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW melaksanakan shalat dan menjadi imam bagi para nabi terdahulu. Hal ini dipahami oleh para ulama sebagai simbol kepemimpinan Rasulullah SAW atas seluruh nabi dan rasul sebelumnya.

Masjidil Aqsa dalam peristiwa ini memiliki kedudukan penting karena merupakan tempat suci ketiga dalam Islam dan pernah menjadi kiblat pertama umat Muslim.

Perjalanan Mi’raj: Naik ke Langit

Setelah Isra, Nabi Muhammad SAW melanjutkan perjalanan Mi’raj, yaitu naik ke langit melewati tujuh lapisan langit. Dalam perjalanan ini, beliau bertemu dengan para nabi, di antaranya Nabi Adam AS, Nabi Isa AS, Nabi Musa AS, hingga Nabi Ibrahim AS.

Puncak perjalanan Mi’raj adalah saat Nabi Muhammad SAW mencapai Sidratul Muntaha. Di tempat inilah beliau menerima perintah shalat secara langsung dari Allah SWT.

Hadis tentang perintah shalat dalam peristiwa Mi’raj diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

 

فُرِضَتْ عَلَيَّ الصَّلَاةُ خَمْسِينَ صَلَاةً فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ

 

Artinya:
Diwajibkan atasku shalat lima puluh waktu dalam sehari semalam.

Setelah melalui beberapa kali dialog antara Nabi Muhammad SAW, Nabi Musa AS, dan Allah SWT, jumlah shalat akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu sehari semalam, namun dengan pahala setara lima puluh shalat.

Isra Mi’raj dalam Perspektif Iman

Isra Mi’raj merupakan peristiwa mukjizat yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya dengan pendekatan logika atau sains modern. Oleh karena itu, para ulama menegaskan bahwa peristiwa ini harus diterima dengan iman kepada kekuasaan Allah SWT.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjelaskan bahwa Isra Mi’raj adalah peristiwa supra-rasional, artinya berada di atas jangkauan akal manusia, tetapi tetap rasional dalam kerangka keimanan terhadap Allah Yang Maha Kuasa.

Sikap para sahabat Nabi saat menerima kabar Isra Mi’raj menjadi contoh nyata keimanan. Abu Bakar Ash-Shiddiq langsung membenarkan peristiwa tersebut tanpa keraguan, sehingga beliau mendapat gelar Ash-Shiddiq.

Hikmah Isra Mi’raj bagi Umat Islam

Peristiwa Isra Mi’raj mengandung banyak hikmah yang relevan bagi kehidupan umat Islam sepanjang masa.

Penetapan Kewajiban Shalat

Hikmah paling utama dari Isra Mi’raj adalah diwajibkannya shalat lima waktu. Shalat menjadi satu-satunya ibadah yang perintahnya diterima langsung oleh Nabi Muhammad SAW tanpa perantara wahyu di bumi.

Al-Qur’an menegaskan fungsi shalat dalam kehidupan seorang Muslim:

 

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

 

Artinya:
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.
(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Penguatan Hubungan Spiritual

Isra Mi’raj mengajarkan bahwa shalat adalah sarana komunikasi langsung antara hamba dan Allah SWT. Dalam kondisi apa pun, shalat menjadi tempat kembali, menenangkan jiwa, dan memperkuat keimanan.

isra mi'raj

Kedudukan Masjidil Aqsa

Peristiwa Isra Mi’raj menegaskan kedudukan Masjidil Aqsa sebagai tempat suci dalam Islam. Hal ini menjadi dasar kuat kepedulian umat Islam terhadap Masjidil Aqsa dan Palestina, bukan semata isu politik, tetapi juga isu akidah dan sejarah Islam.

Ujian Keimanan

Isra Mi’raj menjadi ujian bagi umat Islam pada masa awal dakwah. Mereka yang beriman akan menerima dengan penuh keyakinan, sementara yang ragu akan mempertanyakannya. Ujian semacam ini juga relevan hingga hari ini, ketika iman sering diuji oleh rasionalitas sempit dan skeptisisme.

Baca juga: Masjid jogokariyan masjid kampung yang menjadi ikon nasional

Relevansi di Zaman Modern

Nilai-nilai Isra Mi’raj tetap relevan dalam kehidupan modern, di antaranya kedisiplinan melalui shalat lima waktu, keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, serta kesadaran bahwa keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari aspek materi, tetapi juga spiritual.

Kesimpulan

Isra Mi’raj adalah peristiwa agung dalam Islam yang memiliki makna mendalam bagi akidah, ibadah, dan kehidupan umat Muslim. Peristiwa ini menegaskan kewajiban shalat lima waktu, memperkuat iman kepada kekuasaan Allah SWT, serta mengajarkan nilai keteguhan dan ketaatan dalam menjalani kehidupan. Sebagai peristiwa yang tercatat dalam Al-Qur’an dan hadis sahih, Isra Mi’raj bukan sekadar sejarah, melainkan fondasi penting dalam ajaran Islam yang relevan sepanjang zaman.

Sumber Rujukan:

  • NU Online (nu.or.id)
  • Kementerian Agama Republik Indonesia (kemenag.go.id)
  • Majelis Ulama Indonesia (mui.or.id)
  • Tafsir Al-Qur’an Kemenag RI
Tagged:

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page