Banyak Kota yang Indah, Tapi Tetap Saja Kangen Jogja juga lahir dari cara kota ini memperlakukan mereka yang sedang berjuang. Tidak semua cerita di Jogja berjalan mulus. Ada mahasiswa yang hidup sangat hemat, ada yang harus bekerja sambil kuliah, bahkan ada yang sempat tidak punya tempat tinggal tetap. Dalam kondisi seperti itu, Jogja tidak menghakimi. Kota ini justru membuka ruang-ruang sunyi yang sering luput dari perhatian.
Masjid menjadi salah satu tempat paling bermakna bagi sebagian mahasiswa. Bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga tempat bertahan hidup. Ada masjid yang dengan sadar membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk menjadi marbot—menjaga kebersihan, mengumandangkan adzan, mengurus keperluan masjid—sebagai gantinya mereka diberi tempat tinggal sederhana dan kebutuhan dasar. Tidak mewah, tapi cukup untuk membuat seseorang bisa tetap kuliah dan bertahan. Dari tempat itulah banyak orang belajar tentang keikhlasan, tanggung jawab, dan arti saling menolong tanpa banyak bicara.
Di Jogja, kampus bukan sekadar institusi pendidikan. Ia menjadi ruang perjumpaan berbagai latar belakang dan cerita hidup. Di ruang kelas, perpustakaan, hingga teras fakultas, mahasiswa belajar lebih dari sekadar teori. Mereka belajar mendengar, menghargai perbedaan, dan hidup berdampingan. Jogja tidak menuntut semua orang menjadi sama, justru mengajarkan cara hidup bersama dalam kesederhanaan.
Banyak Kota yang Indah, Tapi Tetap Saja Kangen Jogja karena di kota ini, manusia tidak dipercepat untuk menjadi “berhasil”. Jogja memberi waktu. Memberi jeda. Memberi kesempatan untuk salah, lalu belajar lagi. Ritme hidupnya tidak tergesa-gesa, seolah mengingatkan bahwa hidup bukan perlombaan, melainkan perjalanan yang perlu dijalani dengan sadar.
Baca juga: Dulu waktu masih di jogja cerita yang tak pernah pudar

Keramahan warga Jogja adalah hal lain yang sulit dicari penggantinya. Sapaan kecil di jalan, senyum yang tulus, dan kesediaan membantu tanpa pamrih adalah bagian dari keseharian. Bertanya alamat bisa berujung obrolan panjang. Kesulitan kecil sering kali disambut dengan bantuan yang tidak diminta. Semua terasa alami, tidak dibuat-buat, dan itulah yang membuatnya membekas.
Bagi mereka yang pernah tinggal lama, Jogja bukan sekadar kota persinggahan. Ia menjadi ruang pembentukan karakter. Tempat seseorang belajar hidup dengan cukup, bukan berlebihan. Belajar menghargai hal-hal kecil—sepiring makan sederhana, obrolan tanpa agenda, dan rasa aman yang tidak bisa diukur dengan materi.
Ketika akhirnya harus pergi, banyak orang baru menyadari satu hal: rindu itu muncul bukan karena Jogja paling sempurna, tetapi karena ia paling manusiawi. Kota lain mungkin menawarkan fasilitas lebih lengkap, peluang lebih besar, dan kehidupan yang lebih cepat. Namun Jogja menawarkan sesuatu yang berbeda—rasa diterima.
Banyak Kota yang Indah, Tapi Tetap Saja Kangen Jogja karena kota ini pernah menjadi saksi masa-masa paling jujur dalam hidup seseorang. Masa belajar, masa kekurangan, masa bertumbuh, dan masa mengenal diri sendiri. Jogja menyimpan semua itu tanpa mengklaim apa pun.
Dan mungkin, itulah sebabnya nama Jogja selalu disebut dengan nada pelan. Bukan dengan teriak, tapi dengan rindu yang dalam. Karena bagi banyak orang, Jogja bukan hanya tempat tinggal di masa lalu—ia adalah bagian dari diri yang tak pernah benar-benar ditinggalkan.






One Comment