Wisata religi adalah perjalanan yang dilakukan bukan sekadar untuk melihat tempat baru, tetapi untuk menguatkan iman, menenangkan hati, dan mendekatkan diri kepada Allah. Ia bukan hanya tentang perpindahan fisik dari satu lokasi ke lokasi lain, melainkan perpindahan suasana jiwa—dari lalai menjadi sadar, dari gelisah menjadi tenang. Dalam Islam, wisata religi memiliki makna yang dalam karena setiap langkah menuju kebaikan bernilai ibadah
Bulan Ramadhan bukan sekadar bulan yang berbeda dalam kalender hijriah. Ia adalah musim pulang—pulangnya hati kepada Allah, pulangnya jiwa kepada ketenangan, dan pulangnya langkah ke masjid. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, banyak orang mencari “wisata” untuk menyegarkan pikiran. Namun bagi seorang Muslim, ada satu bentuk perjalanan yang lebih dalam maknanya: wisata religi. Dan pada bulan Ramadhan, destinasi itu menemukan puncaknya di masjid.
Apa Itu Wisata Religi?
Secara umum, wisata religi adalah perjalanan yang dilakukan bukan semata untuk rekreasi, tetapi untuk mendapatkan pengalaman spiritual, memperkuat iman, dan mendekatkan diri kepada Allah. Ia bukan hanya tentang mengunjungi tempat yang indah, tetapi tempat yang memiliki nilai ibadah dan sejarah keislaman.
Wisata religi bisa berupa ziarah, kunjungan ke pesantren, menghadiri majelis ilmu, atau mendatangi masjid-masjid bersejarah. Namun dalam konteks Ramadhan, makna wisata religi menjadi lebih luas dan lebih hidup. Ia bukan hanya perjalanan fisik, melainkan perjalanan ruhani.
Dan di sinilah masjid mengambil peran sentral.
Masjid: Bukan Sekadar Bangunan
Allah Ta’ala berfirman:
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kamu menyembah sesuatu pun di dalamnya selain Allah.”
(QS. Al-Jinn: 18)
Masjid adalah rumah Allah. Ia bukan sekadar bangunan dengan kubah dan menara, bukan pula hanya tempat shalat lima waktu. Sejak zaman Nabi Muhammad ﷺ, masjid menjadi pusat peradaban: tempat ibadah, tempat belajar, tempat bermusyawarah, bahkan tempat pembinaan umat.
Di bulan Ramadhan, fungsi itu semakin terasa. Masjid menjadi jantung kehidupan umat Islam. Dari fajar hingga malam, ia hidup oleh dzikir, tilawah, shalat, dan majelis ilmu.
Inilah yang menjadikan masjid sebagai destinasi wisata religi paling menenangkan.
Mengapa Masjid Menjadi Destinasi Wisata Religi Saat Ramadhan?
1. Tempat Ibadah yang Lebih Khusyu
Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Allah berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an…”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Suasana masjid di bulan Ramadhan berbeda. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan. Saat melangkah masuk, hati terasa lebih lembut. Ketika berdiri dalam shalat tarawih, mendengarkan lantunan ayat-ayat suci, jiwa seakan dibersihkan.
Bagi banyak orang, ini adalah “liburan batin”—beristirahat dari kegaduhan dunia dan menikmati kedamaian bersama Allah.
2. Pusat Majelis Ilmu
Ramadhan juga identik dengan kajian dan majelis ilmu. Setelah shalat Subuh, menjelang berbuka, atau usai tarawih, masjid-masjid dipenuhi oleh ceramah, tadabbur Al-Qur’an, dan diskusi keislaman.
Wisata religi bukan hanya tentang melihat tempat, tetapi mengalami suasana. Duduk di majelis ilmu, mencatat nasihat ustaz, mendengar kisah para sahabat, adalah pengalaman spiritual yang memperkaya hati.
Di sinilah masjid menjadi ruang tumbuh. Orang yang datang mungkin awalnya hanya ingin shalat, tetapi pulang dengan ilmu dan semangat baru untuk memperbaiki diri.
3. Tempat Tilawah dan Tadabbur Al-Qur’an
Ramadhan disebut sebagai syahrul Qur’an, bulan Al-Qur’an. Masjid menjadi tempat terbaik untuk membaca dan mentadabburi firman Allah. Suasana yang tenang, jauh dari gangguan, membuat tilawah terasa lebih khusyu.
Banyak orang sengaja “berwisata” dari satu masjid ke masjid lain untuk mencari suasana yang mendukung tilawah. Ada yang memilih masjid besar dengan imam yang merdu, ada pula yang lebih nyaman di masjid kecil yang sunyi dan sederhana.
Semua itu bagian dari perjalanan ruhani.
4. Menghidupkan Sunnah I’tikaf
Sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah puncak perjalanan spiritual. Nabi Muhammad ﷺ mencontohkan untuk beri’tikaf di masjid pada malam-malam tersebut.
I’tikaf adalah bentuk wisata religi yang paling dalam. Seseorang meninggalkan rutinitas dunia untuk fokus beribadah: shalat malam, dzikir, doa, dan membaca Al-Qur’an.
Di dalam masjid, waktu terasa berbeda. Malam yang biasanya dipenuhi hiburan berubah menjadi malam munajat. Air mata yang jatuh dalam sujud menjadi saksi betapa hati sedang dibersihkan.
Inilah perjalanan yang tidak membutuhkan tiket mahal, tetapi menghasilkan ketenangan yang tak ternilai.
Baca juga: Puasa dalam islam pengertian hukum dan hikmah
Dimensi Sosial dalam Wisata Religi di Masjid
Wisata sering kali identik dengan kebersamaan. Demikian pula Ramadhan di masjid.
Ada buka puasa bersama, pembagian takjil, santunan anak yatim, dan kebersamaan dalam shalat tarawih. Masjid menyatukan berbagai lapisan masyarakat: tua dan muda, kaya dan sederhana, pejabat dan rakyat biasa.
Di sana tidak ada perbedaan status. Semua berdiri sejajar dalam satu saf.
Kebersamaan ini menumbuhkan rasa persaudaraan. Ramadhan menjadi momentum mempererat ukhuwah. Maka wisata religi di masjid bukan hanya perjalanan individu, tetapi perjalanan kolektif umat.

Keindahan Arsitektur dan Nilai Sejarah
Sebagian masjid memiliki nilai sejarah dan arsitektur yang memukau. Mengunjungi masjid-masjid tua atau masjid agung di suatu daerah juga menjadi bagian dari wisata religi.
Namun yang paling penting bukanlah kemegahan bangunannya, melainkan suasana ibadah di dalamnya. Kubah boleh megah, karpet boleh tebal, lampu boleh gemerlap—tetapi ketenangan sejati lahir dari dzikir dan kehadiran hati.
Masjid sederhana di kampung pun bisa menghadirkan kedamaian yang sama, bahkan lebih dalam, jika dihidupkan dengan iman.
Masjid dan Transformasi Diri
Wisata biasanya meninggalkan kenangan. Wisata religi meninggalkan perubahan.
Seseorang yang menghidupkan Ramadhan di masjid sering merasakan transformasi diri. Ia lebih sabar, lebih lembut, lebih terjaga lisannya. Hatinya lebih peka terhadap dosa dan lebih rindu kepada ibadah.
Masjid mengajarkan disiplin waktu melalui shalat berjamaah. Ia melatih kekhusyukan melalui sujud yang panjang. Ia membiasakan interaksi dengan Al-Qur’an dan doa.
Ramadhan adalah sekolah, dan masjid adalah ruang kelasnya.
Menjadikan Masjid Sebagai Tujuan Utama Ramadhan
Di era modern, wisata sering diartikan sebagai perjalanan ke tempat-tempat populer. Namun Ramadhan mengajarkan prioritas yang berbeda.
Alih-alih mencari hiburan berlebihan, kita bisa menjadikan masjid sebagai tujuan utama. Setiap langkah menuju masjid bernilai pahala. Setiap duduk menunggu shalat dihitung sebagai ibadah. Setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca diganjar kebaikan berlipat.
Masjid adalah destinasi yang tidak pernah mengecewakan. Ia tidak menawarkan gemerlap dunia, tetapi menawarkan ketenangan hati. Ia tidak memberi sensasi sesaat, tetapi memberi bekal untuk akhirat.
Penutup: Perjalanan yang Menghidupkan Hati
Ramadhan adalah perjalanan. Dan masjid adalah tempat singgah terbaik dalam perjalanan itu.
Di sanalah kita belajar merendahkan diri. Di sanalah kita memperbaiki shalat. Di sanalah kita meneteskan air mata taubat. Di sanalah kita merasakan bahwa hidup bukan hanya tentang dunia, tetapi tentang kembali kepada Allah.
Jika wisata biasa menyegarkan tubuh, maka wisata religi di masjid menyegarkan ruh. Jika perjalanan dunia memberi cerita, maka perjalanan ke masjid memberi cahaya.
Maka ketika Ramadhan tiba, jadikanlah masjid sebagai destinasi utama. Datangi ia bukan hanya saat tarawih, tetapi juga untuk shalat sunnah, tilawah, majelis ilmu, dan i’tikaf. Biarkan hati beristirahat di rumah Allah.
Karena pada akhirnya, yang paling kita butuhkan bukanlah tempat yang ramai dikunjungi manusia, tetapi tempat yang diridhai oleh-Nya.




