Home / Ragam / Profil Ustadz Muhammad Jazir ASP

Profil Ustadz Muhammad Jazir ASP

USTADZ JAZIR

Penggerak Dakwah Akar Rumput dan Arsitek Masjid Jogokariyan sebagai Pusat Pemberdayaan Umat

Yogyakarta dan jejaring dakwah Indonesia berduka. Ustadz Muhammad Jazir ASP, Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan Yogyakarta sekaligus Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Jogokariyan, wafat pada Senin, 22 Desember 2025. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi jamaah Masjid Jogokariyan, tetapi juga bagi Muhammadiyah dan gerakan masjid di Indonesia.

Selama puluhan tahun, Ustadz Jazir dikenal sebagai figur sentral dakwah berbasis masjid yang konsisten memperjuangkan peran masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, sekaligus pemberdayaan sosial-ekonomi umat.

Latar Belakang dan Masa Awal Kehidupan

Muhammad Jazir ASP lahir di Yogyakarta pada 28 Oktober 1962. Ia tumbuh dalam lingkungan religius dan masjid yang kuat. Ayahnya merupakan imam pertama Masjid Jogokariyan, menjadikan dunia kemasjidan sebagai ruang hidup yang akrab sejak masa kanak-kanak.

Sejak duduk di bangku kelas lima sekolah dasar, Jazir telah aktif membantu aktivitas masjid. Pada usia 10 tahun, ia dipercaya menjadi ketua pengajian anak-anak di sebuah langgar kecil di kawasan selatan Yogyakarta. Empat tahun kemudian, ia memimpin remaja masjid. Pengalaman-pengalaman awal ini membentuk karakter kepemimpinannya: membumi, egaliter, dan berorientasi pelayanan jamaah.

Pendidikan dan Pembentukan Gagasan Dakwah

Dalam menempuh pendidikan formal, Jazir memperdalam ilmu keislaman dan pemikiran sosial. Ia tercatat sebagai mahasiswa di:

  • Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,

  • Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Kombinasi latar belakang keagamaan dan hukum ini memberi fondasi kuat bagi cara pandangnya tentang keadilan sosial, tata kelola kelembagaan, dan peran masjid dalam kehidupan masyarakat.

Salah satu pengalaman penting yang membentuk gagasannya adalah kunjungan pendidikan Al-Qur’an ke Malaysia. Di sana, ia menyaksikan langsung bagaimana imam dan pengurus masjid berfungsi sebagai rujukan sosial masyarakat—tidak hanya memimpin ibadah, tetapi juga menyelesaikan persoalan warga. Model inilah yang kemudian ia adaptasi dan kembangkan di Jogokariyan.

Demokratisasi Kepemimpinan Masjid

Pada era 1990-an, ketika pergantian kepemimpinan takmir masjid lazim dilakukan secara aklamasi atau penunjukan internal, Jazir mengambil langkah berani. Ia menolak pola lama dan mendorong agar ketua takmir dipilih langsung oleh jamaah secara terbuka.

Gagasan ini terwujud pada 1999, ketika Masjid Jogokariyan menyelenggarakan pemilihan ketua takmir secara demokratis. Jazir terpilih sebagai ketua, dan peristiwa ini menjadi tonggak penting dalam sejarah pengelolaan masjid di Jogokariyan, bahkan menginspirasi masjid-masjid lain di berbagai daerah.

Konsep Saldo Masjid Nol

Nama Ustadz Jazir semakin dikenal luas lewat gagasannya yang fenomenal: konsep “saldo masjid nol”.

Berbeda dengan praktik umum yang menganggap besarnya saldo sebagai indikator kemakmuran masjid, Jazir justru meyakini bahwa dana masjid harus segera kembali kepada jamaah. Infak dan sedekah tidak dibiarkan mengendap, tetapi dialirkan untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat.

Baginya, masjid adalah energi sosial: menghimpun dana dari jamaah, lalu mengembalikannya kepada jamaah dalam bentuk kebermanfaatan nyata.

USTADZ JAZIR

Baca juga: Khitanan masal gratis

Program Ikonik dan Pemberdayaan Jamaah

Di bawah kepemimpinan Ustadz Jazir, Masjid Jogokariyan menjelma menjadi laboratorium dakwah sosial. Berbagai program lahir dan berkembang, antara lain:

  • ATM Beras, layanan beras gratis berbasis kartu bagi jamaah dhuafa

  • Wakaf produktif, termasuk sawah wakaf untuk ketahanan pangan jamaah

  • Pasar Sore Ramadan, ruang ekonomi rakyat yang hidup selama bulan suci

  • Angkringan jamaah, peci batik Jogokariyan, usaha katering, dan unit UMKM masjid

  • Layanan kesehatan dan poliklinik berbasis masjid

Semua program tersebut diarahkan untuk menguatkan kemandirian ekonomi jamaah, bukan sekadar bantuan karitatif.

Salah satu pernyataannya yang kerap dikutip mencerminkan ketegasan sikapnya:

“Tidak mengajak memberi makan orang miskin itu mendustakan agama. Masjidnya bagus, ada tetangga tidak punya beras, tidak peduli. Itu bukan masjid, itu candi.”

Peran Organisasi dan Kiprah Nasional

Selain aktif di Masjid Jogokariyan, Ustadz Jazir juga terlibat dalam berbagai lembaga dan organisasi, di antaranya:

  • Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan

  • Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Jogokariyan

  • Anggota Komisi Dakwah MUI DIY

  • Tim Ahli Pusat Studi Pancasila UGM

  • Wakil Ketua Pengarah AYODYA

  • Presiden Direktur BKPAKSI

Jejaring dan kiprahnya membuat Masjid Jogokariyan dikenal secara nasional sebagai model masjid peradaban.

Wafat dan Warisan Keteladanan

Ustadz Muhammad Jazir ASP wafat pada Senin, 22 Desember 2025, di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Jenazah disemayamkan di Masjid Jogokariyan, dimandikan dan dishalatkan di tempat yang menjadi pusat pengabdiannya, sebelum dimakamkan usai salat Zuhur.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengenang almarhum sebagai kader istimewa yang gigih, istiqamah, dan konsisten menggerakkan dakwah berbasis masjid. Menurutnya, dedikasi Ustadz Jazir mencerminkan misi Muhammadiyah dalam menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat dan transformasi sosial.

Meski telah berpulang, warisan pemikiran, sistem pengelolaan masjid, dan semangat keberpihakan kepada kaum lemah yang ditinggalkan Ustadz Muhammad Jazir ASP diyakini akan terus hidup dan menginspirasi generasi penerus.

Masjid Jogokariyan hari ini bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan jejak panjang pengabdian seorang dai yang menjadikan masjid sebagai rumah bagi umat.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page